Storyteller: Syarifah Arsih Nur
Malin Kundang
Alkisah di sebuah desa kecil, terdapat gubuk tempat seorang wanita janda tua yang telah lama ditinggal suaminya. Wanita tua itu memiliki seorang anak kecil yang ia beri nama 'Malin Kundang'. Sang wanita tua itu sangat menyayangi anaknya dan berharap kelak anakknya akan menjadi anak yang baik dan berhasil.
Tiap hari bukanlah hari yang mudah bagi sang wanita tua untuk menghidupi kebutuhannya dan anaknya tanpa bantuan seorang suami. Akhirnya, ia hanya bekerja sebagai buruh tani pada sebuah ladang yang dimiliki seorang kayaraya di desa itu. Upah yang ia dapatkan begitu sedikit dan hanya cukup untuk pangan sehari-hari mereka saja.
Akhirnya, setelah hari semakin hari berlalu, dan tahun pun telah berganti, Malin tumbuh sebagai anak yang gagah dan juga tampan. Ia sangat dewasa. Sang ibunya pun telah menjadi wanita yang lemah karena umur yang memakan sisa sisa kekuatannya.
Pada hari itulah, di atas dipan tempat duduk mereka, Malin berkata pada ibunya, "Ibuku, engkau tau bahwa aku sudah tumbuh dewasa dan siap menggantikanmu. Aku sudah tak tega melihatmu berkeringat peluh demi menghidupiku meskipun kadang aku membantumu. Dikarenakan upah yang kita dapatkan sangatlah sedikit. Tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita yang lain. Karena itu Ibu, izinkan anakmu ini pergi merantau ke kota orang. Anakmu ini akan mencari kerja dan upah yang banyak agar engkau tak perlu bekerja lagi. Setelah harta anakmucini kumpulkan, dengan segeralah anakmu ini akan pulang menjemput ibu."
Sang ibu yang memang sudah tua dan begitu lemah apalagi jika hendak ditinggal anaknya seorang, hanya bisa menitikkan air mata dan sesekali segukan, lalu ia menatap anak satu-satunya dan berkata, "Wahai anakku, apalah daya ibumu ini, ibu tak sanggup jika engkau pergi dari sisi ibu, bekerjalah dan carilah harta, namun, jangan tinggalkan lah ibumu ini." Malin yang melihat ibunya menangis itu hanya bisa menundukkan kepala. Ia bertekad untuk meyakinkan ibunya. Kemudian, ia menggenggam lembut tangan ibunya yang sudah sangat lecet itu sambil berkata dengan penuh kelembutan, "Ibu, Malin tidak akan pernah meninggalkan ibu. Malin selalu di hati ibu, begitu juga Ibu selalu berada di hati Malin. Ibu jangan bersedih karena Malin hanya akan merantau sebentar. Setelah satu tahun, Malin akan segera kembali lagi untuk menemani ibu. Malin berjanji bu, Malin akan segera pulang. Janganlah ibu menangis dan bersedih hati karenanya, kita akan segera bersama-sama kembali." Mendengar kebulatan tekad dari anaknya, sang ibu hanya bisa meraup wajahnya yang sudah penuh keriput itu dan berkata pelan, "Baiklah, jika itu adalah yang menurutmu terbaik dan kau senggup melakukannya. Pergilah dan segeralah kembali. Ibu memegang semua janjimu. Dan Tuhan telah menjadi saksi di antara kita."
Setelah mengatakan itu, sang ibu pun masuk kedalam gubuk meninggalkan anaknya yang termenung.
Keesokan harinya, ketika ayam berkokok untuk menyapa para tuannya, Sang ibu yang selalu bersiap siap untuk bekerja di pagi hari segera bangun dan menyiapkan makanan, ketika matahari terbih dan cahayanya masuk ke dalam celah-celah gubuk yang kecil itu, sang ibu membuka bilik anaknya untuk membangunkannya. Namun, ketika bilik itu terbuka, tampaklah ruangan yang amat kecil itu tak bersisakan apapun. Seketika sang ibu tersungkur di dalam bilik itu karena tak kuat menahan rasa sedih yang menimpanya. Dua hari kemudian, para tetangga yang memang akrab dengan ibunya Malin, menemukan Sang wanita tua itu tergeletak, dan segera memanggil tabib.
Tahun berganti tahun, kini sang ibu yang tiap harinya hanya menangis di dalam bilik anaknya, menjadi kurus dan tak terurus. Ia jarang makan kecuali para tetangga yang benar-benar baik hati merawatnya dan memberinya makan, serta menasehatinya agar tak terlalu bersedih dan menyiksa diri. 3 tahun lamanya, sang anak yang telah berjanji padanya tak kunjung pulang untuk menjemputnya ataupun menengoknya. Anaknya bagaikan angin yang pergi tanpa pamit dan tak kunjung datang menghampiri.
Akhirnya, setelah 3 tahun lebih lamanya, sang ibu mulai kehabisan air mata. Ia tak bisa lagi menangis. Kemudian, Ia kembali mulai bekerja walau di usianya yang sudah begitu tua. Namun, dibalik itu ada perasaan rindu terhadap anaknya, namun hatinya juga sakit karena anaknya telah melanggar janjinya dengan waktu yang begitu lama.
Sampai beberapa minggu kemudian, sang Ibu mendengar berita bahwa terdapat kapal besar yang singgah di desanya. Kapal itu milik seorang saudagar kaya dari kota orang. Sang ibu yang ketika mendengar berita itu sontak memikirkan anaknya, "apakah itu adalah anakku?"
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke pelabuhan tempat kapal itu berada. Ketika tiba di sana ia melihat seorang pemuda yang gagah dan ketika memperhatikannya dengan saksama, Ia adalah anak yang selama ini ia tunggu-tunggu. Ia adalah Malin Kundang.
3 tahun lebih ia menunggunya. Sang Ibu tak kuasa menahan air mata dan menangis. Dengan tubuh yang bergetar dia berusaha mendekati kapal itu dan menuju sang anak.
Namun, ketika dia hendak menaiki kapal besar itu, dua orang awak kapal menghalanginya. Salah seorang diantaranya berkata, "anda siapa?" Sang wanita tua itu berkata, "saya adalah ibu dari orang yang sedang berdiri itu." Sambil menunjuk ke arah Malin Kundang.
Sang awak terheran-heran. Mereka pun saling berpandangan. Apakah benar yang dikatakan sang wanita tua ini? Akhirnya salah seorang dari mereka melapor kepada Si Malin Kundang.
Si Malin Kundang pun mendekati wanita tua yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Wajahnya tampak tidak senang dengan kehadiran wanita tua itu. Sang wanita tua berkata, "Wahai Malin, Aku adalah ibumu yang melahirkanmu dan merawatmu hingga engkau besar dan engkau pun memutuskan untuk merantau dan berjanji padaku akan kembali setelah setahun. Namun, engkau melanggarnya dan setelah 3 tahun lebih lamanya engkau pun tiba di sini. Apakah engkau tidak merindukanku seperti aku merindukanmu?"
Namun, Malin dengan acuhnya berkata, "Wahai wanita tua, jangan sembarangan berkata! Engkau ini siapa? Sang buruk rupa!"
Seorang gadis cantik yang berada di samping Malin berkata kepada Malin, "Wahai suamiku, Apakah benar wanita ini adalah ibumu?"
Namun, dengan kasar Malin menjawab, "Tentu saja bukan! Wanita sang buruk rupa ini tidak mungkin seorang ibuku. Ibuku sudah lama meninggal dan aku sudah lama menjadi yatim piatu."
Sang wanita tua yang tidak lain ibu Malin itu sendiri pun akhirnya menangis dan berkata sejati-jadinya, "Wahai Malin, Aku adalah ibumu yang melahirkanmu dan merawatmu sejak lama. Apakah engkau tiba-tiba melupakanku setelah aku merindukanmu 3 Tahun lamanya?"
Namun, kembali Malin menjawab, "Wahai wanita tua! Jangan pernah engkau menyebut bahwa Engkau adalah ibuku. Ibuku yang kucintai telah lama meninggal dan kau hanya mengaku saja karena aku adalah seorang saudagar kaya."
Dan akhirnya, Malin Kundang memerintahkan awaknya untuk mengusir wanita itu yang tidak lain adalah ibunya sendiri.
ibunya yang sudah tua dan tak berdaya pun akhirnya dibuang.
Ibunya yang mendapat kenyataan seperti ini menangis sejadi-jadinya. Tidak lama kemudian, kapal Malin pun pergi. Sang Ibu hanya menangis dan kemudian ia mengadahkan tangannya dan berdoa "Wahai Tuhan, yang menjadi saksi antara aku dan anakku, sungguh hatiku begitu sakit atas perlakuan anakku. Betapa lama aku merindukannya dan kemudian dia membuangku begitu saja, seakan ia lahir dan dirawat oleh orang lain. Ya Tuhan, Engkau maha mendengar dan mengetahui, karenanya kutuklah Malin karena ia telah durhaka kepadaku. Sungguh, Aku adalah makhluk lemah yang memohon kepadamu."
Tak lama kemudian, awan bergemuruh dan kilat menyambar begitu kuat ke arah kapal Malin. Akhirnya kapalnya terombang-ambing dan mengenai musibah yang ditimpakan oleh Tuhan.
Akhirnya Malin dikutuk menjadi batu karena telah durhaka kepada ibunya. Seluruh harta yang telah Ia kumpulkan hilang begitu saja dan ia pun menjadi batu dan berakhir sia- sia.
Tamat
(Sum: Pinterest)
Komentar
Posting Komentar